Kamis, Agustus 27, 2009

SELF:Mengendalikan dan mengelola Diri hidup sukses berdasarkan Al Qur’an

Disamping itu TULISAN INI diharapkan bisa memandu bagaimana mengendalikan dan mengelola Diri hidup sukses berdasarkan Al Qur’an dalam upaya mendayagunakan potensi spritual untuk meningkatkan hidup dan kehidupan yang sesuai dengan fitrahnya yakni terbentuknya individu-individu yang harmonis antara:

1. Manusia dengan alam materi ( Alam Semesta )
2. Manusia dengan alam malakut (Energi cahaya,gelombang,frekwensi,aura )
3. Manusia dengan alam pikiran.( Akal dan hati)
4. Manusia dengan alam iradah (kehendak / Nafsu )
5. Manusia dengan alam ‘Amr ( perintah / afirmasi )
6. Manusia dengan dirinya sendiri ( Hamba /Abdillah )
7. Manusia dengan Tuhannya ( Yang Maha Mutlak )

Pembahasan ini menjadi penting agar Manusia memiliki kesadaran akan potensi spritualnya sebagai Pencipta, Pengabdi, Penaggung Jawab, Pengelola, Pemimpin dan Penikmat atas Hidup dan Kehidupannya.-


Renungan - Tafakur

MANUSIA RAHMATAN LIL’ALAMIN,
MANUSIA YANG MENDAHULUKAN
PELAYANAN KEPADA orang lain
adalah Manusia yang telah SUKSES secara hakiki.


Spiritual Engineering Lock-Key Formula’s’® ( S.E.L.F )

“Psikologi adalah telaah ilmiah terhadap tingkah laku Manusia dan proses-proses pikirannya. Psikologi menyangkut semua segi hidup Anda termasuk kebahagiaan dan kesedihan Anda, dan hubungan-hubungan Anda entah itu baik atau buruk, dengan keluarga atau teman-teman rekan usaha, dan masyarakat pada umumnya.

Tidak ada usaha – dari membina perkawinan, mendidik anak, menyampaikan gagasan-gagasan Anda kepada orang lain, menjual suatu produk, atau mendidrikan usaha baru – yang pernah sama sekali terpisah dari jangkauan psikologi.

Selama 35 tahun terakhir, terobosan-terobosan penting telah terjadi di bidang psikologi tingkah laku. Diantara yang paling penting adalah teori-teori mengenai kodrat citra Diri, kekuatan berpikir positif, dan kodrat mekanisme sukses Manusia yang bersifat sibernetis atau mencari tujuan.

Semua pendekatan ini terpadu dalam metodologi baru yang mengasyikan yang disebut NLP, Neuro Linguistic Programming. Istilah Neuro Linguistic Programming berasal dari “neuro” berarti otak dan “linguistic” yang merujuk pada bahasa.”Programming “adalah memasukkan suatu gagasan atau konsep ke otak.

Oleh karena itu, NLP adalah telaah mengenai bagaimana orang berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal dengan otak mereka, dan bagaimana hal ini mempengaruhi system syaraf pusat serta tingkah laku mereka.”

Dalam buku ini Penulis menggunakan istilah Spiritual Engineering Lock - key Formula’s berasal dari ‘spiritual’ berarti bathin, rohani dan “Engineering” yang dimaksud adalah Keahlian Tehnik, Kerekayasaan; maksud yang diharapkan penulis adalah merencanakan, mengusahakan rencana, mengatur dengan terampil dalam bahasa Inggrisnya Engineer . ”Formula“artinya Rumus
‘ yang penulis maksud adalah Rumus Kunci Keterampilan Mengusahakan dan Mengendalikan Rencana Kerja Bathin - untuk mencapai keterwujudan tujuan.

“Kesuksesan yang terbesar
adalah keberhasilan menerima
diri sendiri”
( Ben Sweet )

Tuhan,Manusia dan alam semesta!

DASAR-DASAR YANG MELANDASI PENULISAN

Awal dari kegalauan penulis semenjak reformasi menjelang pertengahan 1998 yang ujungnya semua persoalan hidup dan kehidupan sampai peristiwa bencana alam Tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatra Utara tanggal 26 Desember 2004 yang telah menelan jiwa ratusan ribu Manusia yang
penulis saksikan dilayar kaca hari demi hari sungguh sangat mengerikan.
Apa makna dari kejadian ini bagi kita ? Sehingga melahirkan beberapa pertanyaan, seperti :

Apa hakekat Manusia itu ?
Kenapa Manusia ada ?
Apa tujuan hidup dan kehidupan Manusia ?
Kenapa terjadi kekerasan diantara Manusia ?
Kenapa Manusia saling menumpahkan darah ? Melalui terror bom ? misalnya.
Apa yang dicari Manusia ?
Kenapa ada Manusia yang bahagia?
Kenapa ada juga Manusia yang menderita akibat bencana, kemiskinan dan kesengsaraan ?
Bagaimana menuju kebahagiaan yang hakiki ?
Bagaimana jalan keluar ketika kita hidup menderita dan sengsara ?.

Diharapkan buku ini mampu menjawab atas berbagai persoalan sebagai ‘solusi alternatif’ bagi kita untuk menyelesaikan masalah tanpa muncul masalah baru ?

Yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan kita sehari-hari baik sebagai pribadi maupun sebagai entitas masyarakat, negara dan bangsa dalam berinteraksi dengan berbagai kondisi dan perkembangan yang sudah sangat sulit arahnya hendak kemana?, hanya ada satu yang sama yakni semua orang memburu, bahkan sudah cenderung menghalahkan segala cara demi memenuhi nafsu yang sudah kelewat batas, akibat konsep materialistis dan ‘berhala dunia materi’ yang sudah menjadi Life style ( gaya hidup ) yang bermuara kepada Hedonisme, ini berbahaya bagi kelangsungan dan kesehatan hidup Manusia dan Kemanusiaanya.

Tulisanini ( sedang penulis rapihkan utk jadi buku ) diharapkan memenuhi kebutuhan fitrah Manusia yang paling hakiki, yang akan menjadi pedoman dalam mengharmonikan eksistensi: “Manusia dengan Diriinya, Manusia dengan Manusia, Manusia dengan Alam Semesta, Manusia dengan Tuhan Penciptanya, sehingga akan melahirkan suatu generasi “Manusia yang rahmatan lil’alamin” sebuah konsep yang bersifat universal.

Secara jujur kita musti mengakui kemajuan teknologi yang sudah sangat maju, hampir segala sarana bagi kebutuhan dan keperluan hidup Manusia sudah ditopang oleh kemajuan Teknologi, dari mulai kebutuhan yang sangat sederhana sampai kepada kebutuhan dan keperluan hidup yang complicated ( Rumit), semua melimpah adanya.

Dalam era “dunia tanpa batas” ( borderless ), aspek-aspek atau kaidah yang menjadi anggukan universal, haruslah menjadi pola dasar pemikiran bagi solusi yang komprehensip dan holistic.
Kemunduran ‘moral’, ‘ekonomi’ dan sosial budaya misalnya, telah mencapai deep crisis yang berkepanjangan, bahkan telah muncul berbagai ‘trend, mode atau gaya hidup, dan kekerasan’ yang bertentangan dengan fitrah Manusia, plus berbagai masalah akibat dampak perilaku sebagai mana disebutkan terdahulu, beserta serenceng masalah satu belum terjawab, masalah yang baru telah muncul, dan seterusnya; hari berganti, tahun berubah, belum ada tanda-tanda ‘titik terang’, klimaksnya adalah bencana alam tsunami 26 Desember 2004.

Yang harus di jawab adalah mengapa hal ini bisa terjadi ? Apakah ada yang salah didalam pengelolaan Diri sebagai pribadi?, atau organisasi yang lebih luas seperti Negara dan atau Masyarakat sebagai institusi ? Sejauh mana kemampuan Mereka dan - Kita didalam mengendalikan dan mengelola berbagai perilaku Manusia dari yang paling sederhana sampai yang lebih luas - sehingga berbagai Kemiskinan, Pengangguran, Terorist, Kejahatan Korupsi, Penggunaan obat terlarang ( Narkoba ), Perkosaan, Seorang Anak Sekolah Dasar gantung Diri, karena malu tidak dapat membayar SPP dan berbagai penyakit yang menimpa masyarakat yang tidak mungkin mencantumkan semuanya - Telah menjadi realitas hari hari yang menghiasi media cetak dan elektronik, bahkan ‘kita’ telah menganggap seluruh ‘berita derita dan bencana kemanusiaan’ yang lebih dahsyat dari ‘Tsunami’ tersebut di atas sebagai sesuatu yang ‘lumrah’.

Sebagai penyeimbang dari realitas yang terjadi sesungguhnya, maka hampir seluruh Station Televisi, gemar mempertunjukkan berbagai ‘hiburan yang tidak mendidik’ melalui berbagai tayangan Sinetron, Opera sabun, berita kekerasan / pemerkosaan, telah menjadi tontonan ‘anak-anak dibawah umur, remaja dan dewasa’ yang akan berdampak dimasa depan “ akan terbentuknya suatu anggota masyarakat sebagai ‘society’ yang secara pelan dan pasti akan menghasilkan suatu peradaban yang menjatuhkan martabat Manusia dan KeManusiaannya. Inilah yang harus segera diantisipasi sebelum keadaan lebih parah dan sulit dikendalikan.

Dari berbagai peristiwa dan kondisi tersebut di atas penulis merenung, membaca, mengamati dan melakukan Kajian-kajian / Diskusi yang pada ahirnya ‘ada semacam panggilan hati nurani’ untuk mengupas tuntas melalui proses pembelajaran terfokus pada apa hakekat Manusia sebenarnya? Dengan tentunya semua upaya ‘ kepedulian’ itu haruslah dimulai dari Diri sendiri, keluarga, dan masyarakat secara keseluruhan. Dan Tugas KeManusiaan ini adalah menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai ‘khalifah’ di muka bumi, tidak dapat menunggu, namun harus segera berbuat demi kemashlahatan umat Manusia.

Lantas penulis tertarik kepada salah satu Hadits Qudsi Rasulullah SAW ;

“Barang siapa mengenal Dirinya, maka ia telah mengenal sholatnya ; Barangsiapa telah mengenal sholatnya maka ia telah mengenal Muhammadnya; Barangsiapa telah mengenal Muhammadnya, maka ia telah mengenal Tuhannya ; Barang siapa telah mengenal Tuhannya , maka ia telah “ bodoh”- telah nampaklah Diri-Nya”.
( Hadits Qudsi )

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada Langit, Bumi dan Gunung-gunung, maka semua enggan memikulnya dan merasa berat dari padanya dan Manusia memikulnya sesungguhnya dia adalah zalim lagi bodoh.”
(QS Al Ahzab – golongan-golongan [33] : 72)


MANAJEMEN ILAHIYYAH

Manusia untuk mengelola bagaimana semua orang dimungkinkan untuk hidup sukses, yang ditopang oleh petunjuk Yang Maha Mutlak -Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan mensinergikan pengetahuan yang bersifat umum atau pengetahuan metafisika, yang bersesuaian dengan Al-Qur’an, serta mengikuti metodologi dan tahapan-tahapan yang pernah dijalankan atau dilaksanakan oleh Nabi Muhammad Saw.

Pekerjaan ini tidak mudah memang, namun penulis terus mencoba sehingga istilah MANAJEMEN ILAHIYYAH, dapat dipahami ketika pembaca selesai menuntaskan seluruh materi dan latihan-latihan yang di kemukakan dalam buku ini.

Lalu buku ini diharapkan mampu ‘membedah anatomi psikologis’ dengan motode ‘MANAJEMEN ILAHIYYAH’ yang bercermin dalam Al-Qur’an perihal sejarah ‘Musa dan Harun’ juga nabi yang lainnya dengan menyisakan ‘evaluasi nabi khaidiri’ akibat pengelolaan Diri yang tidak optimal, cenderung tergesa-gesa dan kurang sabar? Sebaliknya Pengelolaan Diri yang sempurna atau optimal telah ditunjukkan oleh Nabi Muhammad saw dengan predikat ‘Manusia rahmatan lil’alamin’.

Buku ini jelas dan tegas, menekankan penguasaan akan pengetahuan, pemahaman, penyadaran dan tindakan perilaku atau sikap Diri kita sebagai Manusia dalam mengendalikan dan mengelola Diri untuk hidup sukses dalam kehidupannya secara optimal, untuk meraih sukses di dunia dan sukses di ahirat, tidak lebih tidak kurang.

Parameter "Sukses yg hakiki " adl memiliki anak yg shaleh, memiliki ilmu yg bermanfaat dn memiliki harta yg di hibahkan utk kpntingan publik ( Amal jariyah ).

Mengapa buku ini sedemikian optimis dan fantastis ? seolah-olah sebagai blue print – hidup dan kehidupan Manusia ?
Jawabannya akan diketahui sendiri setelah anda selesai membaca dan mengikuti training “MANAJEMEN ILAHIYYAH ”. Lalu ? teruslah menjalani hidup ini dengan penuh gairah, betul-betul dalam ke“nikmat”an yang tiada tara sebagai anugerah dan karunia yang maha melimpah dari Yang Maha Mutlak, karena anda telah mengenal berbagai potensi Diri serta mengelolanya secara alamiah akan otomatis bekerja sesuai keberadaan potensi-potensi yang anda miliki sejak lahir, namun selama ini tersembunyi.

Penulis hanya membangkitkan potensi tersebut, selanjutnya akan otomatis bekerja sesuai dengan kehendak anda, yakni keterwujudan tujuan.

Buku ini diharapkan, tidak memunculkan berbagai pertanyaan ; karena anda sendiri telah secara otomatis menjawab pertanyaan yang muncul, dahsyat memang!!!.

Insya Allah

Apa hakekat Manusia itu ?

Apa hakekat Manusia itu ?

Begitu banyak hal bergantung pada konsepsi kita tentang hakikat Manusia; bagi Manusia perseorangan, hal tersebut antara lain :

• Makna dan Tujuan hidup kita,
• Apa yang sebaiknya kita lakukan dan kita usahakan,
• Apa yang boleh diharapkan untuk dicapai atau kita berharap menjadi apa; bagi Masyarakat Manusia,
• Visi Komunitas Manusia bagaimana yang kita harapkan terwujud dan jenis perubahan sosial macam apa yang harus kita lakukan.

Penulis meminjam suara-suara dan mata hati milik-Nya dalam menggagas sebuah bentuk sinergi dengan Metodologi Kenabian (Manajemen Ilahiyyah) dalam penyusunan ‘pemikiran’ yang diharapkan dapat diandalkan dalam menjawab berbagai macam persolan hidup dan kehidupan Umat Manusia yang didasarkan pada Ayat-ayat Allah SWT serta tuntunan dan panduan dari Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW. yang diantaranya sebagai berikut :

“Dan Aku tidak ciptakan jin dan Manusia supaya mereka menyembah-Ku.”
(QS Adz Dzariat – Angin yang menerbangkan[51] : 56)

“Apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menjadikan kamu sia-sia dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami lagi ?”
(QS Al mu’minun – orang-orang beriman [23] : 115 )

“Bukanlah sebaik-baik kamu adalah orang yang bekerja untuk dunianya saja tanpa akherat dan tidak pula orang-orang yang bekerja untuk akheratnya saja dan meningglkan dunianya, dan sesungguhnya sebaik-baiknya kamu adalah orang yang bekerja untuk ( akherat ) dan untuk ( dunia ).”
( Al Hadits )

Umat Manusia dalam mengemban misi sebagai Khalifah dimuka planet Bumi ditakdirikan oleh Tuhan dalam kondisi yang multi plural, sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Hujurat ayat 13 :

“Hai Manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang Laki-laki dan seorang Perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal.”
( QS. Al Hujurat – [..] ayat 13 )

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya yaitu kitab-kitab dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kau turuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu Kami berikan aturan dan jalan yang terang niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lobalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.”
(QS Al Maidah – hidangan [5] : 48)

Sangat musykil bagi seseorang dalam hidup dan kehidupan tanpa berinteraksi dengan orang lain dan lingkungannya karena pada hakekatnya Manusia itu bukanlah makhluk yang manDiri dalam mewujudkan tujuan hidup dan kehidupan mereka. ( “supaya saling kenal mengenal”).
Karena setiap orang saling bergantung dalam kehidupan mereka maka persaingan, konflik dan benturan kepentingan antara orang yang satu dengan orang yang lain, golongan yang satu dengan golongan yang lain, kelompok yang satu dengan kelompok yang lain dalam mencapai kesuksesan, kebahagiaan dan kepuasan pribadi masing-masing orang adalah suatu keniscayaan.

“ Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih kalau tidak karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu pastilah telah diberi keputusan diantara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan itu.”
( QS Yunus [10] : 19)

Agar eskalasi persaingan, konflik dan benturan kepentingan antara orang yang satu dengan yang lain bisa menghasilkan sesuatu yang produktif dan bisa mewujudkan kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup dan kehidupan setiap orang maka diperlukan aturan main ( rule of the game ) yang mampu mengendalikan dan mengelolah Diri hidup menuju sukses dan itu semua adalah Ayat-ayat suci Allah yang tertuang dalam Al Qur’anul Karim


Rabu, Agustus 26, 2009

“Berlomba-lombalah kamu sekalian dalam kebaikan ( fastabiqul khairat )” kata Rasulullah dalam Al Hadits.

Berbeda dengan berbagai aturan-aturan main Ciptaan Manusia dalam berbagai bentuk Idiologi dan filosofi yang masih menyisakan kandungan zero sum game, aturan main yang tertuang dalam Ayat-ayat suci Allah sama sekali meniadakan unsur-unsur zero sum game tetapi kaya akan kandungan character building dan kewajiban untuk bertaqwa kepada Allah SWT sebagai fondasi utama dalam mengatur kehidupan Diri sendiri, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan dalam kehidupan pribadi setiap orang.

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka putusannya ( terserah ) kepada Allah, Itulah Allah Tuhanku, kepada-Nya aku bertawakkal dan kepada-Nya aku kembali ; Dia pencipta langit dan bumi, Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan, dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu, tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia dan Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. “
(QS Asy Syuraa – Musyawah[42] :10 –11 )

“Manusia itu adalah umat yang satu, maka Allah mengutus para Nabi sebagai pemberi Kabar Gembira dan pemberi Peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar untuk memberi keputusan diantara mereka tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab yaitu setelah datang kepada mereka Keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki diantara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk kepada Orang-orang yang Beriman kepada Kebenaran tentang hal yang mereka Perselisihkan itu dengan Kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.“
( QS Al Baqaraah – sapi betina [2] : 213 )

Inti dari Konflik yang muncul diantara kita adalah Persaingan ( competition ) untuk memperjuangkan dalam mendapatkan atau memperoleh Kepentingan-kepentingan tertentu. Dan Ayat-ayat Allah dalam Al Qur’an mengatur, mengendalikan serta menggiring persaingan menuju satu muara yaitu ; berlomba-lomba menuju kebaikan (berlomba-lomba mencapai kemulyaan disisi Tuhan dengan taqwa kepada-Nya) .

“Berlomba-lombalah kamu sekalian dalam kebaikan ( fastabiqul khairat )” kata Rasulullah dalam Al Hadits.

Kalimat berlomba-lomba dalam menuju kebaikan haruslah dimaknai secara mendalam artinya setiap apa yang kita kerjakan untuk memperoleh atau mendapatkan Kepentingan-kepentingan yang menjadi Keinginan kita haruslah diniati secara tulus dan ikhlas dalam rangka Beribadah dan Bertaqwa kepada Tuhannya sehingga Umat Manusia akan mampu hidup dengan harmonis, bahagia serta menjunjung tinggi asas survival for all.

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima ( mematuhi ) seruan Tuhannya dan menDirikan Shalat, sedang urusan mereka diselesaikan dengan musyawarah antara mereka dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”
(QS Asy Syuraa – Musyawarat[42] :38)

Hal ini bisa dilihat dari firman Allah yang berbunyi ;

“Berilah Maaf dan Suruhlah mengerjakan Kebaikan serta Berpalinglah daripada Orang-orang yang Bodoh.”
(QS Al A’ raaf – Tempat tertinggi [7] : 199)

“Dan (bagi) Orang-orang yang diperlakukan yang apabila diperlakukan dengan zalim mereka membela Diri ; Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa maka barang siapa yang Mema’afkan dan Berbuat baik maka pahalanya atas ( tanggungan ) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim ; Dan sesungguhnya orang-orang yang Membela Diri sesudah Teraniaya tidak ada satu dosapun atas mereka ; Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada Manusia dan melampaui batas dimuka Bumi tanpa hak, mereka itu mendapat azab yang pedih ; tetapi orang-orang yang Bersabar dan Memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan “
(QS Asy Syuraa – Musyawarat [42] :39 –43 )

Ayat di atas merupakan perintah untuk saling memberi ma’af kepada sesama kita sekaligus melarang kita untuk bertindak bodoh dan dzalim dengan membiarkan dendam kesumat bersarang dalam hati kita sekaligus memerintahkan kepada kita semua sebagai Manusia untuk berbuat kebaikan.

“Yaitu Orang-orang yang Menafkahkan ( Hartanya ) pada Waktu Lapang dan pada Waktu Sempit dan Orang-orang yang Menahan Amarahnya dan Memaafkan kesalahan orang lain dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS Al Imraan – keluarga Imran [ 3] : 134)

Membangun Kesalehan Sosial ( Manusia Rahmatan lil’alamin )

Untuk membangun Kesalehan Sosial ( Manusia Rahmatan lil’alamin ) yang menjadi Pilar utama dalam membangun Ketaqwaan kepada Allah melalui jalinan Kasih sayang serta hubungan baik dengan sesama Manusia tidak peduli bahwa berasal dari golongan apa dan siapa mereka, status apa sekaligus Allah mewajibkan kepada kita untuk berlaku adil kepada sesama umat Manusia sebaliknya Allah sangat tidak suka dengan sikap dan sifat yang yang merusak kualitas Diri Manusia seperti : Rendah Diri , Sombong, Takabur, Riya, Malas, Bodoh, Prasangka buruk serta Membangga-banggakan Diri, yang sangat tidak bersesuaian dengan fitrah Manusia yang Hakiki.

“Dan Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan dengan apapun dan berbuat Baiklah kepada Ibu – Bapak, Kerabat, Anak-anak Yatim, Orang-orang Miskin, Tetangga yang dekat dan Tetangga yang jauh, Teman sejawat, Orang-orang yang dalam Perjalanan dan Budak-budak kamu ! Sesungguhnya Allah tidak suka dengan orang-orang yang sombong lagi membangga-banggakan Diri.”
(QS An Nisya’ – perempuan [4] : 36)

“Yaitu Orang-orang yang Menafkahkan ( Hartanya ) pada Waktu Lapang dan pada Waktu Sempit dan Orang-orang yang Menahan Amarahnya dan Memaafkan kesalahan orang lain dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS Al Imraan – keluarga Imran [ 3] : 134)

“ Maka karena Rahmat dari Allah engkau bersikap lemah lembut kepada mereka, sekiranya engkau berlaku keras dan berhati kasar tentulah mereka menjauhkan Diri dari sekitarmu, maka maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam suatu urusan maka apabilah kamu telah mebulatkan tekad, bertawakkalah kepada Allah ! Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal.”
(QS Al Imraan – keluarga Imran [ 3] : 159)


“Yang demikian itu lebih dekat bahwa para saksi mengemukakan kesaksiannya menurut semestinya atau mereka sangat takut dikembalikan sumpahnya sesudah sumpah mereka . Dan bertaqwalah kepada Allah ! dengarkanlah perintahnya ! dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”
(QS Al Maa’idah – hidangan [5] : 108)

“Hai Orang-orang yang Beriman hendaklah kamu jadi orang yang menegakkan (Kebenaran) karena Allah, menjadi Saksi dengan Adil dan janganlah sekali-kali Kebencian kamu terhadap suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak Adil karena Adil itu lebih dekat kepada Taqwa dan Bertaqwalah kamu kepada Allah ! Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS Al Maa’idah – hidangan [5] : 8)

Penegakan kebenaran dan keadilan merupakan Kunci dalam menuntaskan konflik menuju penyelesaian yang baik dan menguntungkan semua pihak .

Penegakan kebenaran dan keadilan merupakan Kunci dalam menuntaskan konflik menuju penyelesaian yang baik dan menguntungkan semua pihak karena itu Allah memerintahkan kepada semua Umat Manusia dimuka Bumi ini untuk bertindak secara tepat dan benar dan berlaku adil tidak hanya kepada sesamanya tetapi bahkan terhadap lingkungannya termasuk terhadap Binatang, Tumbuhan dan lain-lainnya termasuk terhadap Hutan-hutan dan Lautan yang sebenarnya merupakan sumber kehidupan bagi Umat Manusia.

“Tidak ada paksaan dalam Agama (Islam ) , sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dan jalan yang salah. Maka barangsiapa yang ingkar kepada taghut dan beriman kepada Allah sungguh dia telah berpegang kepada tali yang kokoh dan tidak akan putus dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui. “
( QS Al Baqaraah :[2] :256 )

“Dan barang Siapa menyerahkan Dirinya kepada Allah dan dia berbuat kebaikan maka sungguh dia berpegang pada tali yang kokoh dan hanya kepada Allah kemudahan segala urusan.”
( QS Luqman [ 31] : 22)

Allah melarang Agama Islam disebarkan dengan cara Memaksa, apalagi dengan disertai Ancaman karena Agama Islam adalah Agama yang mengajak Umat Manusia senantiasa menegakkan perdamaian sekaligus mengajak Umat Manusia yang tidak hanya plural bahkan multi plural di muka Bumi ini untuk berlomba-lomba, bersaing dalam hal Kebaikan dan Kebenaran, berlomba-lomba dan bersaing dalam hal menegakkan Keadilan berarti berlomba-lomba dalam memperoleh Kemuliaan disisi Allah. Dalam rangka menuju Kemaslahatan, Kebahagiaan dan Kesejahteraan bersama.
Ayat di atas juga menjelaskan secara tidak langsung kepada kita bahwa kita dalam berinteraksi dengan masyarakat sehari-harinya tidak diperbolehkan bersikap Memaksakan Kehendak.
Untuk mencegah konflik yang tidak perlu Al Qur’an sangat melarang kita untuk saling memperolok-olok antar sesama kita yang dijelaskan dalam surat Al Hujuraat ayat 11 yaitu :

“Hai Orang-orang yang Beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka yang mengolok-olok dan janganlah perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan-perempuan (yang diolok-olok) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencelah Dirimu sendiri dan Janganlah kamu Panggil-memanggil dengan Gelar-gelar yang buruk, seburuk-buruk panggilan adalah memangil dengan Gelar-gelar yang buruk, seburuk-buruk ( panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barang siapa yang tidak bertobat maka itulah Orang-orang yang dzalim.”
(QS Al Hujuraat – kamar-kamar[49] :11)

Disamping itu ada juga sumber konflik yang harus dicegah yaitu Prasangka buruk, Mencari-cari Kesalahan orang, Menggunjing. Hal ini sangat dilarang karena bisa berakibat pada Pertengkaran, Kekerasan yang bisa menumpahkan darah. Hal ini sesuai dengan surat Al Hujuraat ayat 12.yaitu :

“Hai Orang-orang yang Beriman jauhilah kebanyakan dari Prasangka, sesungguhnya sebagian dari Prasangka itu adalah dosa, dan Janganlah kamu mencari-cari Kesalahan orang lain dan Janganlah sebagian kamu Menggunjing sebagian yang lain, Sukalah salah seorang diantara kamu Memakan daging saudaranya yang sudah mati, maka tentulah kamu merasa Jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha Panyayang”
(QS Al Hujuraat – kamar-kamar[49] :12).

“Hai orang yang beriman jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan musibah terhadap suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
(QS Al Hujuraat – kamar-kamar [49] :6 ).

Allah juga memberikan Petunjuk dan Panduan sebagai dasar bagi kita dalam memperoleh jalan keluar jika terjadi Perselisihan dan Pertengkaran diantara kita melalui firman-firman-Nya ;

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua Golongan itu berbuat Aniaya terhadap Golongan yang lain maka Perangilah Golongan yang Aniaya itu sehingga Golongan itu kembali kepada Perintah Allah, jika Golongan itu kembali kepada Perintah Allah maka damaikanlah antara keduanya dengan Adil dan Berlaku adillah! Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil ; Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah! Antara dua saudaramu dan Bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat Rahmat.”
(QS Hujuraat – kamar-kamar[49] :9 –10 ).

Inilah Jalan Yang Akan Saya Lakukan” yaitu Tindakan Yang Tepat Dan Benar Dalam Menyelesaikan Masalah Secara Tuntas.

Dengan segala Kerendahan hati Penulis misalnya mencoba mengkritisi, tentang Metode dan Model Pendidikan Agama dan Ceramah-ceramah Agama yang seharusnya bisa memberikan Jawaban dalam persoalan-persoalan hidup yang dihadapi oleh Umat Manusia ternyata tidak lebih hanya sekedar Retorika belaka dengan tekanan pada pendekatan fatalisme, sekular yang cenderung memisahkan antara Kehidupan Dunia dengan Kehidupan Akherat

Akibatnya kecenderungan apa yang kita sebut dengan survival of the fittest masih ada dalam kehidupan bermasyarakat yang ditunjukkan dengan adanya eksploitasi antara bangsa yang kuat terhadap bangsa yang lemah baik itu dengan cara terang-terangan ( vulgar ) atau dengan cara sembunyi-sembunyi (atau halus) atau juga eksploitasi antara Majikan dengan Buruhnya atau Pemerasan yang dilakukan oleh pihak buruh dengan Majikannya.

Bahkan yang tidak kalah Jahatnya adalah kecenderungan dalam mengkhianati amanah hampir menjadi gaya hidup terutama di Republik ini yang dibuktikan merajalelanya Korupsi, Penyuapan dan tindak Kecurangan lainnya pada semua tingkatan Masyarakat yang sangat bertentangan dengan asas-asas Keimanan dan Ketaqwaan kepada Tuhan sehingga menciptakan Penderitaan dan Kesengsaraan bagi orang lain.

Padahal jika kita mampu memahami makna dan menjalankan petunjuk dari ayat-ayat Tuhan secara mendalam dan menghindari kecenderungan dikotomi kehidupan dunia dan kehidupan akherat maka fenomena yang digambarkan di atas tidak pernah ada dan kalaupun ada eskalasinya tidak akan seluas ini sehingga keberhasilan dalam mewujudkan suatu kehidupan Masyarakat yang Bahagia, Sejahtera dan berada dalam Ampunan-Nya ( Baldatun toyyibatun wa roobun ghofur ) merupakan suatu Keniscayaan bagi kita semua.

Berdasarkan kondisi tersebut di atas penulis mencoba untuk menjawab dan membahas secara mendalam dengan model pendekatan Metodologi Kenabian ( Manajemen Ilahiyyah ) dengan menggunakan Pola merekayasa spritualitas ( Spritual Engineering Lock Formula’s ) dalam mencapai Keterwujudan Tujuan.

Metode ini menekankan pada pemahaman yang mendalam yang didukung oleh disiplin pelatihan ketat yang disertai dengan Ketulusan Hati dalam jangka panjang, mandiri dengan mengambil manfaat atas berbagai potensi seperti salah satu potensi yakni kekuatan pikiran bawah sadar yang lebih dikenal dengan hati nurani .

Pemahaman dan pembahasan secara mendalam belumlah cukup jika tidak didukung oleh disiplin pelatihan yang ketat secara terus menerus dalam jangka panjang sehingga bisa dicapai suatu kebiasaan yang mampu mengubah Karakter sesuai dengan yang kita harapkan sehingga mampu mengeliminasi sikap dan Kebiasaan buruk yang selama ini kita lakukan.

Diharapkan setelah membaca dan mengikuti pelatihan SELF MODEL kita memeproleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas tersebut agar kita bisa mewujudkan Diri sebagai Al- insan Al-kamil yaitu Manusia paripurna suatu wujud Manusia yang mampu menjawab dan menjalani seluruh persoalan hidup dan kehidupannya dengan sukses.

Tulisan ini memberikan pola pelatihan Spritual Engeineering Lock-Key Formula’s (SELF) MODEL yang efektif dan bisa dilakukan setiap harinya secara disiplin dan berkesinambungan sehingga mampu membangkitkan kesadaran Diri bukan timbul karena keterpaksaan yang bermuara pada internalisasi karakter. Karena memberikan pengetahuan dan pemahaman secara mendalam juga sebagai Panduan didalam pelaksanaannya dengan cara Independen, Konsisten dan Sistimatis.

Disamping itu diharapkan bisa memandu bagaimana MENGENDALIKAN DAN mengelola DIRI hidup sukses berdasarkan Al Qur’an dalam upaya mendayagunakan potensi spritual untuk meningkatkan hidup dan kehidupan yang sesuai dengan fitrahnya yakni terbentuknya individu-individu yang harmonis antara:

- Manusia dengan Alam Materi ( Alam Semesta )
- Manusia dengan Alam Malakut ( Energi cahaya, gelombang )
- Manusia dengan Alam Pikiran.( Akal )
- Manusia dengan Alam Iradah (kehendak / Nafsu )
- Manusia dengan Alam ‘Amr ( perintah / afirmasi )
- Manusia dengan Dirinya sendiri ( Hamba /Abdillah )
- Manusia dengan Tuhan Penciptanya ( Yang Maha Mutlak )

Pembahasan ini menjadi penting agar Manusia memiliki kesadaran akan potensi spritualnya sebagai Pencipta, Pengabdi, Penaggung Jawab, Pengelola, Pemimpin Dan Penikmat atas Hidup Dan Kehidupannya.

Akhirnya kita akan menjalani hidup dan kehidupan ini dengan bergairah karena kita telah Menyadari, Memahami, Mengetahui Dan Mengenal Dirinya. Kita tak bisa lagi mengatakan “ Aduh ! “, “Stress”, “Bete”, “Pusing, Nggak Tahulah!”. Sebaliknya kita harus menyatakan “Inilah Jalan Yang Akan Saya Lakukan” yaitu Tindakan Yang Tepat Dan Benar Dalam Menyelesaikan Masalah Secara Tuntas Menuju Arah Yang Lurus Sebuah Jalan Sukses Manusia Yang Hakiki.

“Bahwa tiada orang dapatkan kecuali yang ia usahakan ?
(QS Surat An Najm – bintang [53] : 39).

“ … Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan nasib suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada Diri mereka sendiri ….”
(QS Ar Raad : 11)
“ Manusia sesungguhnya adalah apa yang ia pikirkan di dalam hatinya “
Ungkapan Nabi Daud.

“Manusia yang Agung adalah mereka yang mengetahui bahwa pikiran menguasai dunia” ujar Emerson.

“Tidak ada yang baik atau buruk kecuali bahwa pikiran membuatnya demikian “ujar
Shakespeare

Barang siapa Mengenal Alif Laam Miim maka ia telah mengenal Dirinya.

1. Barang siapa Mengenal Alif Laam Miim maka ia telah mengenal Dirinya.
2. Alif Laam Miim adalah eksistensi Diri anda sebagai Manusia secara utuh beserta potensi-potensi yang dimilikinya yakni spritual, mental dan jasmani .
3. Al-Qur’an adalah petunjuk bagi Alif Laam Miim yakni Diri Anda sebagai Manusia seutuhnya ( spritual, mental dan jasmani ).
4. Percaya kepada hal-ihwal yang gaib adalah prasyarat pertama untuk menjadi orang-orang yang beruntung.
5. Tindakan Metafisika dengan men-Diri-kan sholat ( Hubungan Manusia dgn Tuhan ) adalah prasyarat kedua untuk menjadi orang-orang yang beruntung.
6. Menjadi Orang kaya atau berkecukupan agar dapat mengeluarkan zakat ( Hubungan Manusia dengan Manusia ) adalah prasayarat ketiga untuk menjadi orang-orang beruntung.
7. Mempelajari, memahami, menyadari dan beriman akan “Kebenaran” yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw ( Al-Qur’an dan Al-Hadist ) serta Ilmu pengetahuan Mutahir hasil olah pikir ‘umatnya’, sebagai ilmu kearifan ‘umat Manusia Mutahir’ dan juga Mempelajari, memahami, menyadari dan beriman akan “Kebenaran” yang diturunkan kepada Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad Saw ( Taurat, Zabur, Injil dan shuhuf-shuhuf ) serta ilmu pengetahuan Kuno ( Terdahulu ) hasil olah pikir “umatnya nabi-nabi terdahulu” sebagai ilmu kearifan ‘umat Manusia terdahulu’, adalah prasyarat keempat untuk menjadi orang-orang yang beruntung.
8. Percaya dan beriman, bahwa seluruh proses kehidupan di dunia ini akan ada akhirnya, kalau berusaha tentu ada hasil akhirnya : Rugi atau Untung / Kaya atau miskin dst., demikian juga Alam dunia ini pun pasti ada akhirnya yakni Alam Akhirat sebagai hasil akhir dari berbagai proses dan upaya “Alif Laam Miim” apakah memilih untuk menjadi orang - orang yang merugi atau memilih untuk menjadi “orang-orang yang beruntung”, adalah prasayarat kelima untuk menjadi orang-orang yang beruntung.

Al-Qur’an secara ‘komprehensif dan integrated’ menjelaskan tujuan Hakiki Manusia dengan menggunakan istilah ‘orang-orang yang beruntung’, serta secara rinci menjelaskan bagaimana persyaratan dan kriteria agar Manusia itu mendapat ‘petunjuk untuk menjadi orang-orang yang beruntung.’

Sehingga untuk keperluan Manusia dalam mengendalikan dan mengelola Diri ‘hidup sukses’, Al-Qur’an telah menginformasikannya dengan sangat terperinci, sehingga bagi Anda yang mendambakan ‘keberuntungan’ maka tidak ada keraguan bahwa cukuplah Al-Qur’an sebagai petunjuk, sebagaimana Firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah [2]: 1-5 :

ALIF LAAM MIIM;
Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; PETUNJUK bagi mereka yang BERTAQWA; (yaitu) mereka yang beriman kepada yang GHAIB, yang menDirikan SHALAT, dan MENAFAKAHKAN SEBAHAGIAN REZEKI yang Kami anugerahkan kepada mereka; Dan mereka yang beriman kepada kitab ( AL QUR’AN ) yang telah diturunkan KEPADAMU dan KITAB-KITAB yang telah diturunkan SEBELUMMU, Serta mereka yakin akan adanya ( kehidupan ) AKHIRAT; Mereka itulah yang tetap mendapat PETUNJUK dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang BERUNTUNG ( SUKSES ).

Dalam surat Al-Baqarah [2]:ayat 1-5 diperoleh pesan-pesan Ilahiyyah untuk Anda yang mendambakan keberuntungan atau sukses, maka untuk maksud tersebut mestilah mengetahui, memahami, menyadari dan melaksanakan atau mengamalkan pedoman yang terkandung di dalam Al-Qur’an , secara ‘tepat dan benar’ agar sesuai dengan apa yang terkandung – sesuai janji Allah swt didalamnya untuk menjadi “orang-orang yang beruntung”.

Sebelum memahami ayat selanjutnya {[2]:2-5} yang sangat terang benderang , hemat penulis ada baiknya Anda mencari tahu untuk memahami secara ‘tepat dan benar’ makna subtansi dari Alif Laam Miim.

Penulis berpendapat bahwa Alif Laam Miim adalah Diri Anda secara “komprehensip dan integrated” sebagai mahluq ciptaanNya yang paling sempurna ( Utuh ) - yang ter-Diri dari beberapa wujud baik yang dhahir maupun yang bathin secara totalitas.

Mengapa ? karena keseluruhan wujud Diri Anda baik yang lahir maupun yang bathin beserta keseluruhan potensinya haruslah mengetahui , memahami, mengimani dan mengamalkan Firman Allah swt tersebut - yakni Alif Laam Miim- karena Diri Anda akan dimintai pertanggung jawaban kelak kemudian.

Sebagai contoh wujud jasmani Anda, beserta potensi-potensi yang dimilikinya yakni panca indera ( mata-telinga-hidung-lidah-kulit ) akan dimintai pertanggung jawabannya dan demikian juga wujud Bathin ( Jiwa ) anda beserta potensi-potensi yang dimilikinya yakni rahasia-rahasia Diri yang sangat halus (lathifah-lathifahnya) akan dimintai pertanggung jawabannya, bahkan napas sekalipun akan dimintai pertanggung jawaban - oleh karena itu menurut hemat penulis makna subtansi dari Alif Laam Miim adalah Diri Anda sebagai Manusia secara utuh ( Jasmani – napas/mental – bathin/spiritual ) harus meyakini akan kebenaran Al-Qur’an sebagai sumber legalitas, sebagai sumber otoritas, sebagai sumber loyalitas dan sebagai sumber kreatifitas.

Penulis dengan segala kerendahan hati dengan tetap mengharapkan petunjukNya, memberanikan Diri untuk ‘mengupas’ Rahasia Alif Laam Miim, berdasarkan pengamatan, perenungan dan tafakur atas realitas Diri dan alam semesta yang terhampar luas sebagai bagian dari wujud Ilmu dan KekuasaanNya serta berbagai referensi yang relevan dengan maksud penulis untuk mencari tahu atas rahasia yang terkandung dari Firman Allah SWT dalam Al Qur'an tersebut, yakni pesan-pesan yang terkandung dalam “Alif Laam Miim “, dengan tetap menyadari berbagai keterbatasan sebagai Manusia, karena ‘upaya ini-mencari tahu’ sangat dihargai dalam tradisi Islam.

Penulis dengan istiqomah menjadikan tafsir yang sudah ada sebagai referensi dari para ahli tafsir terdahulu yang telah berjerih payah untuk menjelaskan makna subtansi Alif Laam Miim. Bahkan penulis terinspirasi dengan penafsir yang menyatakan bahwa : ” tafsir Alif Laam Miim itu mengandung makna :” Alif adalah Allah swt, Laam adalah Malaikat Jibril dan Miim adalah Muhammad”
Dari penafsiran tersebut di atas, lalu penulis berpendapat bahwa Alif Laam Miim itu sangat terkait erat dengan eksistensi Diri Anda sebagai Manusia selaku khalifahNya di muka bumi yang memilki 3 ( tiga ) potensi utama yang ada dalam Diri Manusia yakni : spiritual, mental dan jasmani yang terkait erat satu sama lainnya ( realitas hidup ) lalu dipisah-pisahkan-Nya sampai waktu yang telah ditentukan ( realitas kematian – berpisahnya ketiga potensi tersebut ).